Jumat, 22 Mei 2015

Gurih Kenyal Soto Ceker yang Hangat untuk Makan Malam!


Hampir setiap daerah di Indonesia​ punya racikan soto yang unik. Seperti soto ceker yang merupakan varian soto ayam versi baru memakai ceker ayam. Meskipun tak berdaging soto ceker asyik dinikmati hangat dengan paduan nasi putih dan kerupuk.​

Ceker atau kaki ayam rasanya ​gurih dan tekstur​nya ​kenyal. Meski tak berdaging kulit dan otot kakinya yang kenyal sangat gurih dinikmati hangat. Malam ini jika ingin bersantap yang ringan dan hangat, soto ceker bisa jadi pilihan. mampir saja ke beberapa penjual soto ceker sedap di Jakarta ini. Jual Kain Batik Betawi

Jumat, 26 Desember 2014

Ada Pertunjukan Seni Tradisional di Candi Borobudur Selama Musim Liburan

Wisatawan yang ke datang Taman Wisatan Candi Borobudur (TWCB) Magelang Jawa Tengah sepanjang libur Natal dan Tahun Baru 2015 ini akan disuguhi beragam pertunjukan kesenian trandisional. Kesenian ini digelar di Taman Lumbini yang terletak di sekitar pelataran Candi Buddha terbesar di dunia itu. 

Menurut Aryono Hendro Malyanto, Kepala Divisi Administrasi dan Keuangan Unit TWCB, kesenian tradisonal sengaja ditampilkan agar wisatawan bisa terhibur disamping menikmati kemegahan Candi Borobudur. 

"Semua kesenian berupa seni musik dan tari tradisional yang ada di sekitar Borobudur. Ini salah satu upaya kami untuk memberikan layanan bagi wisatawan sejak 2 Desember 2014 hingga 1 Januari 2015," jelas Aryono di Borobudur, Sabtu (27/12/2014). 

Beberapa jenis kesenian tersebut antara lain, antara lain Tong-tong lek, kuda lumping, prajuritan, ndayakan, jathilan, topeng ireng, kubrosiswo, warokan, wayang kulit, dan musik keroncong. Ada pula demo membuat batik tulis, gerabah serta pensil gaul di Museum Kapal Samuderaraksa kompleks TWCB. batik betawi

"Pertunjukkan kesenian ini juga untuk mengakomodir kelompok-kelompok seni yang tumbuh berkembang di sekitar candi Borobudur agar bisa tersalurkan," tutur Aryono. 

Selasa, 04 November 2014

Tenun Lombok Rambah Metropolitan


sudah jatuh. Namun, Mak Sum (35) masih menenun di bawah redup sinar bohlam. Petenun di Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, itu sedang kejar setoran melayani pesanan desainer di gemerlapnya Jakarta.

Mak Sum dengan cekatan memutar alat pengatur benang yang disebut ngane. Ngane adalah proses mengatur benang sebelum diberi gambar atau motif, lalu dicelup dan siap ditenun. Tak jauh dari tempat Mak Sum berdiri, Rian Novianti (22) sibuk menggambar motif tenun dari benang yang telah di-ane. Novi menyelesaikan satu motif yang sangat rumit itu hanya dalam waktu setengah jam. Keduanya bekerja sembari mengobrol berkawan kopi.

”Biasanya kami tidak bekerja selarut ini. Beberapa minggu ini kami bekerja sampai malam karena sedang mengejar pesanan,” ujar Nur Aini (37), petenun yang menjadi perantara antara petenun dan pembeli.

Pesanan berupa 95 potong kain tenun ikat harus diselesaikan paling telat awal November ini. Pemesannya adalah tiga desainer dari Jakarta, yaitu Ari Arka, Ayu Diah, dan Rani Hatta. ”Awal Oktober lalu, saya sudah kirim 65 potong. Stok kain sekarang habis, harus segera produksi lagi,” kata Nur yang bermitra dengan 35 petenun. Jual kain batik betawi

Di lemari Nur hanya tersisa dua lembar kain tenun ikat. Selebihnya kain-kain tenun berupa syal atau selendang yang juga sudah dipesan ketiga desainer sebagai suvenir tamu acara peragaan busana mereka. Untuk memenuhi sisa pesanan, para petenun harus ngebut. Satu lembar kain yang biasanya bisa dikerjakan hingga dua bulan kini harus selesai paling lama seminggu.

Menurut Nur, kerja sama dengan tiga desainer itu terjalin dua tahun lalu sejak dia aktif berpameran di Jakarta. Produk Nur disukai karena warnanya indah. Nur mengaplikasikan teknik pewarnaan batik pada proses pewarnaan tenun ikat. Mengikat benang lungsi bisa diibaratkan menutup kain dengan malam lalu dicelupkan ke dalam pewarna.

”Untuk motif, kami membuatnya sesuai pesanan atau kreasi sendiri. Selain motif lama, seperti Sri Menanti dan Ragi Genep, kami juga membuat motif baru, seperti motif daun dan bunga mawar. Ada kalanya motif kami kombinasikan,” kata Nur.

Bergairahnya pasar diakui Nur membuat perajin semakin kreatif menciptakan motif-motif baru. Mereka juga uji coba warna yang semakin variatif. Satu lembar kain tenun benang sintetis dengan waktu pengerjaan yang dikebut selama lima hari dijual seharga Rp 400.000-Rp 500.000, bergantung pada kerumitan motif.

Dalam kondisi kejar setoran seperti itu, Hasmuni yang ahli membuat motif juga tidak kalah sibuk. Dibantu istrinya, dia kerap bekerja hingga larut malam menyelesaikan sejumlah motif agar siap ditenun keesokan harinya. Hasmuni banyak mengaplikasikan motif yang dekat dengan kehidupan dan adat Lombok, seperti daun kangkung dan lumbung padi.

Pekerjaannya itu nyaris tidak berhenti karena Hasmuni juga menjual benang bermotif siap tenun untuk para petenun di Lombok Barat. Harganya berkisar Rp 75.000-Rp 100.000. ”Di sini ada 15 pembuat motif, termasuk saya. Dalam satu bulan, saya bisa membuat 200 motif,” ungkap Hasmuni.

Kondisi serupa terjadi di Desa Ungga, Praya Barat Daya, Lombok Tengah, yang dikenal sebagai salah satu sentra kain songket. Ani (34), pemilik art shop Aldi’s, mengatakan, setelah peristiwa bom Bali, industri tenun Lombok turut terpukul. Untungnya, tiga tahun terakhir, kondisi kembali stabil, bahkan terus membaik.

Ani berkisah, dua tahun lalu, Bali bahkan pernah memesan 1.000 lembar kain tenun rangrang kepada para perajin tenun Lombok. Itu sebabnya, di sejumlah sentra perajin tenun Lombok hingga kini banyak ditemukan produksi tenun rangrang.

Ani, yang sejak 12 tahun lalu menjalin kerja sama dengan sejumlah perajin, saat ini banyak menerima pesanan dari Bali dan Jakarta. ”Kalau ke Jakarta sekali kirim bisa sampai 50 lembar. Bulan lalu, saya kirim ke Thamrin City 40 lembar,” ujar Yani. Berbeda dengan kain tenun ikat, kain songket dijual Rp 700.000-Rp 1,5 juta per lembar, bergantung pada kerumitan motif.

Pasar lokal

Bukan hanya pasar di luar Lombok, pasar lokal tenun Lombok pun tidak kalah bergairah. Anjuran pemerintah provinsi terkait dengan penggunaan batik dan tenun bagi pegawai negeri sipil pada setiap Kamis juga sedikit banyak mendorong konsumsi tenun, termasuk tenun Lombok.

Potret antusiasme pasar lokal terhadap tenun Lombok dapat ditemui di sejumlah penjahit yang tersebar di seluruh Lombok. Selain modiste, bermunculan pula para desainer yang mengolah tenun Lombok menjadi produk berkualitas tinggi.

Selain baju, kain tenun baik ikat maupun songket juga diolah menjadi produk lain, seperti tas, dompet, dasi, dan perlengkapan dekorasi interior, seperti dilakukan Linda Hamidy Grander dan Maya Damayanti. Hanya saja, menurut Linda, masih dibutuhkan penyesuaian motif dan warna agar memenuhi kebutuhan dunia mode.

Supawati (38) dari Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, menuturkan, permintaan kain tenun selain digunakan untuk seragam juga dipakai untuk keperluan adat dan penggunaan sehari-hari, seperti sarung untuk shalat. Di Pringgasela, kain songket dibuat dengan motif lebih sederhana atau tidak terlalu dekoratif. ”Biasanya hanya motif horizontal dan vertikal saja seperti motif lambe,”

Selain kain tenun ikat, para perajin di Pringgasela juga banyak memproduksi berbagai jenis kain, seperti kain osap yang biasa digunakan untuk menutupi wajah jenazah. Motif kain osap yang sederhana tetapi menarik kerap membuat pembeli tertarik dan menggunakannya sebagai bahan pakaian. ”Yang banyak pakai motif osap malah pejabat,” ucap Supawati.

Di Pringgasela, kain umbaq yang digunakan untuk ikat pinggang bersalin bermotif garis juga masih diproduksi. Bahkan, kain kafan warna-warni, kain capuatu yang digunakan untuk sarung bantal kursi, dan kain untuk selimut pun masih diproduksi.

Menurut Ketua Dekranasda Provinsi Nusa Tenggara Barat Erica Zainul Majdi, Dekranasda berupaya meningkatkan kualitas produk tenun melalui pembinaan para perajin.

Ini memang saat yang tepat bagi tenun Lombok yang tengah bergeliat untuk memilih berpacu mengejar waktu atau tergerus oleh waktu.

Minggu, 19 Oktober 2014

Sore di Setu Babakan

Pohon rindang mengelilingi area sekitar danau. Kicauan burung memecah kesunyian. Sore itu udara terasa sejuk. Di pinggiran Jakarta Selatan ini warga menghabiskan waktu, mengasingkan diri dari kebisingan Ibu Kota. Kain batik betawi

Setu Babakan memang sudah lama menjadi alternatif warga Jakarta untuk sekadar menyegarkan pikiran. Mereka duduk-duduk di pinggir danau, bercengkerama bersama karib ataupun keluarga.

"Enak bisa lihat pemandangan, buat refreshing sore juga nyaman di sini apalagi tempatnya gratis," ujar Yuni (40) salah satu pengunjung. Yuni datang membawa anaknya yang masih kecil.

Yuni yang sudang sering datang ke Setu Babakan, Srengseng Sawah ini juga peduli dengan kondisi setu yang terkesan kurang dirawat. Kata dia, banyak hal yang musti diperbaiki agar lokasi ini semakin manarik.

"Masih banyak yang harus dibagusin lagi sih, kayak pedagang dirapihin, area parkir juga diperluas sama bangku-bangkunya lagi dipercantik," kata Yuni kepada Kompas.com pekan ini.

Setu ini terlihat tidak rapi, misalnya saja bangku-bangku taman yang ala kadarnya. Jalanan di sekitar setu juga rusak dan becek bila diguyur hujan.

Selain Yuni, pengunjung lain, Alif (20) mengharapkan hal yang sama. "Tempatnya sih sudah enak buat ngabisin waktu luang sama pacar misalnya, hanya ya masih harus banyak yang ditambah," kata Alif.

Dia menyebut, salah satu yang harus diperhatikan adalah lampu-lampu taman. Tanamannya juga kurang variatif. "Bunga-bunga harus ditambah biar lebih cantik dan enak dipandang," kata pria yang membawa serta kekasihnya itu.

Alif berharap tempat wisata alam seperti itu diperbanyak jumlahnya. Apalagi kini ruang terbuka hijau nyaris lenyap dimakan gedung-gedung bertingkat.

Tempat 'nongkrong' mahasiswa

Karena lokasinya yang dekat dengan beberapa universitas, Setu Babakan kerap dijadikan tempat 'nongkrong' para mahasiswa. Salah satunya Efni (21), mahasiswa Universitas Pancasila. Efni dan teman-teman kampusnya mengaku hampir tiap sore menghabiskan waktu di Setu Babakan.

Dari kampusnya, Efni hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk mencapai setu dengan kendaraan.

Satu yang membuat Efni dan teman-temannya betah berlama-lama di setu adalah banyaknya penjual makanan. Selain menikmati suasana, mereka juga berwisata kuliner khas Betawi di tempat ini.

Jumat, 03 Oktober 2014

Tentang Kebaya Encim yang Diwajibkan di Sekolah, Ini Tanggapan Jokowi

Kebijakan Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang mewajibkan siswi SD, SMP, dan SMA memakai kebaya encim setiap Jumat, menuai perdebatan. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menengahi dengan meminta publik lebih dulu bersabar dengan kebijakan ini.

"Ya biasalah, sesuatu yang baru, ada setuju dan nggak setuju. Ada yang komentar dan nggak komentar. Satu-satu saja dulu dimulai, kita nggak langsung semuanya, kalau enggak kita akan seperti ini terus,"‎ kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (8/8/2014).

Menurut presiden terpilih ini, perdebatan tentang penggunaan pakaian adat Betawi dan Koko ini hanya perlu disosialisasikan kembali. "Hari-harinya diatur. Kayak kita batik hari apa? Nah sudah hapal itu. Hari-harinya gak diatur," tutupnya. Batik betawi

Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengeluarkan surat edaran nomor 48/SE/2014 tentang peraturan baru seragam sekolah. Surat ini merupakan sosialisasi atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 tentang pakaian seragam peserta didik tingkat dasar dan menengah.

Di surat itu, Kepala Dinas Pendidikan Lasro Marbun mengimbau siswa SMP dan SMA se-Jakarta untuk memakai kebaya encim. Wagub DKI Basuki T Purnama atau Ahok memberikan penjelasan soal kewajiban memakai baju encim bagi siswi SD, SMP, dan SMA. Sebenarnya tidak diharuskan memakai baju encim, mereka diberi kebebasan memakai baju muslim atau baju daerah. Bahkan baju batik pun dibolehkan.

Sabtu, 20 September 2014

Tips Memilih Baju Batik


Salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan adalah berbelanja, termasuk dalam berbelanja batik. Batik adalah salah satu busana tradisional yang berasal dari Jawa.

Kini, batik menjadi sebuah busana yang memiliki tampilan yang menarik dan modern. Dalam menggunakan batik, kamu harus mengetahui beberapa tipsnya, seperti kain, motif dan warnanya.

Berikut ini adalah beberapa tips dalam memilih busana batik agar sesuai dengan kebutuhan kamu.
Untuk busana kasual, sebaiknya kamu memilih batik yang bercorak fauna dan flora. Selain, itu usahakan batik berada dalam paduan warna yang cerah sehingga memberi kesan aktif dan ceria.

Jika kamu memiliki tubuh yang besar, pilihlah motif batik yang ukurannya sedang. Hindari motif yang ukurannya terlalu besar ataupun terlalu kecil. Sedangkan, jika kamu memiliki tubuh yang mungil, pastikan kamu memilih motif batik berukuran kecil.

Untuk gaya kasual, kenakan busana berpotongan simpel dengan aplikasi atau detail menarik. Dan agar nyaman dipakai, untuk busana kasual pilihlah batik yang terbuat dari katun. Adapun untuk busana kerja, sebaiknya kamu memilih batik dalam kombinasi warna gelap atau pastel, serta bercorak geometris agar penampilan kamu menjadi tetap terlihat rapi, simpel, dan formal.

Jika kamu memiliki tubuh yang besar, pilihlah motif geometris yang berukuran sedang, atau kombinasi motif geometris yang besar dengan yang ukurannya kecil agar sesuai dengan proporsi tubuh kamu. Jual batik betawi murah

Sedangkan bila kamu memiliki tubuh yang mungil, jangan ragu untuk memilih batik bermotif geometris berukuran sedang agar bentuk tubuh tampak lebih proporsional. Untuk aktivitas kerja, pastikan kamu memilih desain busana yang simpel namun tegas, sehingga tetap berkesan profesional. Hanya jika diperlukan bisa ditambah detail atraktif yang terkesan minimalis, seperti opnaisel, ploi, saku, atau tali pinggang.

Terakhir, pilihlah batik yang terbuat dari katun dan tambahkan superlining sebagai pelapis dalam (furing) agar jatuhnya busana terlihat lebih tegas dan rapi.Yang terakhir adalah tips dalam memilih batik untuk busana pesta. Apabila kamu ingin membuat busana pesta atau resmi dari kain batik, kamu bisa menggunakan berbagai jenis motif dan paduan warna.

Yang penting, pilihlah warna serta motif batik yang sesuai dengan jenis acara yang akan kamu hadiri (suasana pesta). Untuk acara pesta yang beratmosfer santai atau semiresmi, kamu bisa memilih batik bermotif fauna dan flora dalam paduan warna cerah ataupun terang. Untuk acara pesta yang resmi, batik bermotif fauna dan flora dalam paduan warna cerah ataupun terang. Selain itu, untuk acara pesta yang resmi, batik bermotif geometris berukuran sedang atau motif-motif klasik, seperti motif Jlamprang dan Truntum dalam sentuhan warna terang atau gelap yang terkesan mewah bisa menjadi pilihan yang tepat. Batik bermotif flora juga bisa dipilih untuk menciptakan busana resmi yang terkesan elegan.

Minggu, 03 Agustus 2014

Sulitnya Mencari Batik Betawi

Sebagai WNI yang cukup akrab dengan Betawi, ada satu kebudayaan yang susah banget saya ditemuin, yaitu batik Betawi. Antara tiada dan ada, saya hanya mendengar kabar burung dari sana-sini yang bilang bahwa batik Betawi itu ada dan memiliki corak yang khas dibanding daerah-daerah lainnya.
Di beberapa pameran yang berhubungan dengan budaya Indonesia, sepertinya ya agak susah menemukan stand yang isinya menjual batik Betawi. Ada rasa sedih karena saya pikir bahwa pengrajin batik Betawi sepertinya sudah enggak ada lagi dan kayaknya jarang juga masyarakat Betawi yang mau dilibatkan dalam proses seperti ini.
Soo, saat ada Inacraft di JCC kemarin saya senang luar biasa saat menemukan satu stand yang memamerkan batik Betawi. Bayangin aja, hanya ada satu stand di antara ratusan stand yang menampilkan batik-batik Indonesia.
Berdasarkan penjelasan Bapak Stand Betawi, pengrajin Batik itu masih ada di sana, makanya dihidupkan lagi usaha batik Betawi ini dengan melibatkan orang-orang sekitar. Bahkan, ada pula workshop membuat batik Betawi di sana dengan biaya sekitar Rp 30.000. Biaya ini sudah lengkap, peserta yang ikut hanya tinggal datang dan bisa membawa pulang batik hasil karyanya. Menarik banget dan membuat saya ingin ke sana. Satu hal yang dikatakan bahwa corak khas batik Betawi itu adalah tumpal: segitiga geometris yang disusun ke bawah. Ada yang menyebutnya corak tombak. Biasanya, ibu-ibu zaman dulu sering memakai kain jenis ini dengan corak tumpal di bagian depannya. Kata Bapak Stand Betawi, corak tumpal itu adalah corak yang tidak bisa dihilangkan dari kain batik Betawi karena sudah menjadi ciri khasnya. Namun, mereka juga tidak menutup kemungkinan untuk membuat motif dari kehidupan masyarakat sehari-hari, seperti bermain kelereng. 
Melihat itu, saya seolah-olah terserap dalam gambaran masyarakat Betawi zaman dulu. Betapa dulu Jakarta pernah terlihat asri dan rimbun, mungkin ndeso: saat Jakarta masih menyediakan lapangan bermain untuk anak-anak, bukan sekadar sibuk dengan permainan digital yang terfokus pada monitor.