Minggu, 19 Oktober 2014

Sore di Setu Babakan

Pohon rindang mengelilingi area sekitar danau. Kicauan burung memecah kesunyian. Sore itu udara terasa sejuk. Di pinggiran Jakarta Selatan ini warga menghabiskan waktu, mengasingkan diri dari kebisingan Ibu Kota. Kain batik betawi

Setu Babakan memang sudah lama menjadi alternatif warga Jakarta untuk sekadar menyegarkan pikiran. Mereka duduk-duduk di pinggir danau, bercengkerama bersama karib ataupun keluarga.

"Enak bisa lihat pemandangan, buat refreshing sore juga nyaman di sini apalagi tempatnya gratis," ujar Yuni (40) salah satu pengunjung. Yuni datang membawa anaknya yang masih kecil.

Yuni yang sudang sering datang ke Setu Babakan, Srengseng Sawah ini juga peduli dengan kondisi setu yang terkesan kurang dirawat. Kata dia, banyak hal yang musti diperbaiki agar lokasi ini semakin manarik.

"Masih banyak yang harus dibagusin lagi sih, kayak pedagang dirapihin, area parkir juga diperluas sama bangku-bangkunya lagi dipercantik," kata Yuni kepada Kompas.com pekan ini.

Setu ini terlihat tidak rapi, misalnya saja bangku-bangku taman yang ala kadarnya. Jalanan di sekitar setu juga rusak dan becek bila diguyur hujan.

Selain Yuni, pengunjung lain, Alif (20) mengharapkan hal yang sama. "Tempatnya sih sudah enak buat ngabisin waktu luang sama pacar misalnya, hanya ya masih harus banyak yang ditambah," kata Alif.

Dia menyebut, salah satu yang harus diperhatikan adalah lampu-lampu taman. Tanamannya juga kurang variatif. "Bunga-bunga harus ditambah biar lebih cantik dan enak dipandang," kata pria yang membawa serta kekasihnya itu.

Alif berharap tempat wisata alam seperti itu diperbanyak jumlahnya. Apalagi kini ruang terbuka hijau nyaris lenyap dimakan gedung-gedung bertingkat.

Tempat 'nongkrong' mahasiswa

Karena lokasinya yang dekat dengan beberapa universitas, Setu Babakan kerap dijadikan tempat 'nongkrong' para mahasiswa. Salah satunya Efni (21), mahasiswa Universitas Pancasila. Efni dan teman-teman kampusnya mengaku hampir tiap sore menghabiskan waktu di Setu Babakan.

Dari kampusnya, Efni hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk mencapai setu dengan kendaraan.

Satu yang membuat Efni dan teman-temannya betah berlama-lama di setu adalah banyaknya penjual makanan. Selain menikmati suasana, mereka juga berwisata kuliner khas Betawi di tempat ini.

Jumat, 03 Oktober 2014

Tentang Kebaya Encim yang Diwajibkan di Sekolah, Ini Tanggapan Jokowi

Kebijakan Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang mewajibkan siswi SD, SMP, dan SMA memakai kebaya encim setiap Jumat, menuai perdebatan. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menengahi dengan meminta publik lebih dulu bersabar dengan kebijakan ini.

"Ya biasalah, sesuatu yang baru, ada setuju dan nggak setuju. Ada yang komentar dan nggak komentar. Satu-satu saja dulu dimulai, kita nggak langsung semuanya, kalau enggak kita akan seperti ini terus,"‎ kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (8/8/2014).

Menurut presiden terpilih ini, perdebatan tentang penggunaan pakaian adat Betawi dan Koko ini hanya perlu disosialisasikan kembali. "Hari-harinya diatur. Kayak kita batik hari apa? Nah sudah hapal itu. Hari-harinya gak diatur," tutupnya. Batik betawi

Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengeluarkan surat edaran nomor 48/SE/2014 tentang peraturan baru seragam sekolah. Surat ini merupakan sosialisasi atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 tentang pakaian seragam peserta didik tingkat dasar dan menengah.

Di surat itu, Kepala Dinas Pendidikan Lasro Marbun mengimbau siswa SMP dan SMA se-Jakarta untuk memakai kebaya encim. Wagub DKI Basuki T Purnama atau Ahok memberikan penjelasan soal kewajiban memakai baju encim bagi siswi SD, SMP, dan SMA. Sebenarnya tidak diharuskan memakai baju encim, mereka diberi kebebasan memakai baju muslim atau baju daerah. Bahkan baju batik pun dibolehkan.